Not the last station from the south but the first toward the north

Tiga tahun yang lalu (Oktober 2010) saya berkesempatan untuk mengunjungi DMZ (Demilitary Zone) di korea selatan, daerah yang juga disulap menjadi kawasan wisata ini adalah daerah perbatasan antara korea utara dan korea selatan. Daerah pegunungan yang cantik ini terletak sekitar 50 km dari seoul ke utara dan 200 km dari Pyongyang ke selatan dipisahkan oleh sungai yang dipagari dengan kawat besi yang tinggi. Di DMZ disamping panorama alamnya yang cantik, terlebih waktu kesana sedang musim gugur dimana daun-daun pohon berubah warna menjadi kuning keemasan, kita juga bisa melihat dan masuk kedalam terowongan-terowongan yang dulu digunakan oleh tentara-tentara korea utara menyusup masuk ke wilayah korea selatan, kabarnya ada ribuan terowongan yang dibangun walaupun sebahagian besar sudah ditutup.

DSC_1333

Rasa curiga dan nuansa persaingan antar dua korea yang pernah menjadi bersatu ini memang sangat terasa diperbatasan, dikedua sisi perbatasan dibangun menara tinggi yang dipasangi bendera negara dipuncaknya. Karena letaknya yang lebih dekat dari Seoul, maka wajarlah kalau aroma pembangunan di lebih terasa di wilayah korea selatan. Namun korea utara berkata lain, karenanya korea utara juga membangun gedung-gedung tinggi yang semata-mata hanya untuk “Show of Power”. Gedung-gedung yang kosong ini dibangun tinggi tanpa lantai, dengan cara ini tentu menghemat biaya pembangunan, karena memang didesain bukan untuk ditempati.

DSC_1300

Harga dari nuansa persaingan dan rasa curiga diperbatasan korea ini tidak berhenti sampai disitu, karena di wilayah korea utara dibangun sebuah bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air maka sebagai antisipasi korea selatan juga membangun bendungan di belakang bendungan korea utara tersebut. Bendungan ini tidak diisi dengan air, tujuannya cuma satu, menampung air yang bisa membanjiri seoul jika suatu saat korea utara menjebol bendungannya.

DSC_1337

Tidak lengkap rasanya membahas perbatasan korea kalau tidak bercerita tentang Cow bridge, Jembatan sapi, jembatan ini dibangun oleh Chung Ju-yung untuk menebus rasa bersalahnya terhadap orang tuanya, disebut Cow Bridge karena jembatan ini dibangun untuk menyeberangkan ratusan sapi yang akan dikirim ke orang tuanya di korea utara sana. Pada waktu korea belum terpisah antara utara dan selatan Chung Ju-yung muda menjual tanpa izin sapi orangtuanya yang kemudian dijadikan ongkos untuk merantau ke Busan mencari pekerjaan. Chung Ju-yung adalah pendiri perusahaan nomor tiga terbesar di korea, Hyundai Group. Perusahaan yang bermarkas di busan ini memiliki andil besar membangun Busan menjadi kota kedua terbesar di korea selatan setelah Seoul.

DSC_1334

Walaupun menjadi wilayah perbatasan antar negara yang dijaga sangat ketat, cerita di perbatasan korea juga masih menyimpan harapan akan lahirnya perdamaian suatu saat nanti. Untuk memelihara rasa sebagai satu korea telah dibangun kawasan industri diwilayah perbatasan, Kawasan industri Kaesong namanya, terletak di area korea utara yang para pekerjanya pun orang korea utara tetapi perusahaannya dibangun dan dimiliki oleh korea selatan. Selain kawasan industri, juga sudah dibangun stasiun kereta api yang nantinya menjadi cikal bakal penghubung korea selatan dan utara dengan jalur kereta api, Saat ini stasiun ini belum berfungsi sebagaimana mestinya sebuah stasiun kereta api, belum ada kereta api yang beroperasi disini, gedung stasiun berfungsi sebagai tempat penjualan beraneka ragam souvenir. Dari stasiun inilah Not the last station from the south but the first toward the north bermula, mudah-mudahan ‘stasiun’ ini benar-benar menjadi stasiun.

Cerita dari tetangganya lain juga Baca

Advertisements

IELTS itu sesuatu banget…

IELTS itu sesuatu banget…

Ahmad yang lagi ambil master degree di Edinburgh bilang IELTS is a ticket, maksudnya dengan punya score IELTS yang cukup impian untuk sekolah keluar negeri sudah didepan mata, kita sudah punya tiketnya tinggal menunggu pesawat yang akan mengantar kita ke negara tujuan. Sudah banyak yang membuktikan ungkapan ini dan Ahmad salah satunya. Tapi bagi saya IELTS juga adalah perjuangan, saya mau cerita kisah saya mendapatkan score IELTS yang pas-pasan ini

Sebenarnya apa IELTS itu? Bagi teman-teman yang sedang mempersiapkan diri sekolah ke luar negeri khususnya ke Eropa atau Australia IELTS bukan barang yang asing lagi, IELTS adalah salah satu sistem untuk mengukur kecakapan bahasa inggris kita. Ada empat skills yang dinilai yaitu Reading, Listening, Writing dan Speaking. Cara penilaiannya mulai dari band 1.0 (satu) untuk Non-User (Gak bisa banget) dan tertinggi adalah band 9.0 untuk Expert user. Nilai rata-rata dari ke empat skills diatas disebut Overall Score dan nilai masing-masing skills disebut Sub score, umumnya overseas university mensyaratkan band 6.5 (Competent user) sampai 7.0 (Good user) untuk  Overall scorenya dan minimal 5.5 – 6.0 untuk tiap Sub scorenya.

Atas saran beberapa orang teman akhirnya saya kursus IELTS preparation test di IALF kuningan, untuk bisa ikut kursus ini harus test dulu, harus bisa menjawab dengan benar 35 dari 50 soal multiple choice yang ada. Untungnya saya bisa menjawab dengan benar 37 soal, dan berhak untuk ikut IELTS Prep-2 (50 jam) kursusnya selama dua bulan dengan 2 kali pertemuan seminggu, saya ambil yang hari rabu (18:30-21:00) dan hari sabtu (08:00-12:00). Mulailah rutinitas naik busway ke kuningan sambil latihan listening, sampai di tempat kursus masih disempatkan sejam-dua jam nongkrong di perpustakaan IALF yang full audio-video itu. Cukup menyita waktu dan pikiran memang belum lagi ditambah dengan PR yang diberikan setiap akhir pertemuan, PR yang paling menguras energi adalah Writing Task. Menulis memang salah satu skill yang jarang dilatih dan ini menjadi momok bagi banyak orang.

Dari 16 kali pertemuan selama dua bulan saya absen cuma sekali, rajin kan?? Wajaaar….soalnya kursus ini saya rasa sangat mahal, yaaa kira-kira cukup untuk berlibur ke Lombok (Good bye rinjani). Makanya karena tak mau rugi, disamping rajin datang dan memanfaatkan fasilitas di perpustakaan juga setiap selesai kursus saya sempatkan pinjam buku dan CD IELTS terus saya gandakan untuk dipelajari dirumah (jangan ditiru, ini pembajakan hehehe). Kira-kira 2 minggu setelah kursus Prep-2 saya mendaftar untuk ikut Tes IELTS, tes ini sudah punya jadwal sendiri disusun selama setahun yang diadakan 2 atau 3 kali sebulan, biayanya $190 (Lumayaaan). Biaya ini diluar biaya kursus ya, tekanannya ada disini, jangan tes kalau tidak punya persiapan berarti atau anda harus menyiapkan $190 yang lain untuk tes berikutnya. Tesnya kira2 selama 4 jam dimulai dari Listening, Reading (masing2 40 soal) dilanjutkan dengan Writing (2 essay) dan terakhir Speaking (berhadapan dengan native speaker).

Butuh 2 minggu untuk mendapatkan hasilnya dan hasil yang saya dapatkan kurang memuaskan, saya hanya dapat band 6 overallnya dengan satu sub score dapat band 5, bisa ditebak itu adalah Writing Task. Overallnya bisa 6 karena readingku dapat 7. Dengan score ini sebenarnya sudah cukup untuk melamar ke beberapa universitas di perancis, italia atau Denmark tetapi tidak untuk ke german atau inggris padahal 2 negara terakhir inilah tujuan utamaku. Disinilah kekuatan tekadku diuji, mengalah dengan score yang ada atau berjuang lagi untuk dapat 6.5 subscore 6 atau 5.5.

Semangatku ternyata masih ada membuatku mendaftar lagi untuk course Prep-2 plus (25 Jam), kursus ini fokus untuk melatih kemampuan Writing dan Speaking, kursusnya selama 2 minggu (senin sampai jumat). Sambil kursus saya bertanya dalam hati, setelah kursus ini dan belum dapat juga 6.5 kira-kira saya mesti kursus kemana lagi ya?? Dan masihkah ikhlas mengeluarkan dolar-dolar berikutnya?? Tak bisa kujawab. Untungnya, pas ikut tes IELTS yang kedua ($190…lagiiii) saya dapat band 6.0 untuk menulis dengan subscore terendah 5.5 (kali ini speaking biang keladinya).….Alhamdulillah….

De ranch, Lembang

De ranch, Lembang

“Anda hebat bisa menunggang kuda dengan baik, Anda hebat dapat memanah tepat sasaran tapi Anda benar-benar hebat jika bisa memanah tepat sasaran dari atas kuda yang berlari, logika ini bisa diterapkan dimana saja”

Berlokasi tak jauh dari kota bandung, kurang lebih 10 km, De ranch bisa menjadi salah satu alternatif tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, disamping tiket masuknya yang cukup murah hanya Rp 5.000 sudah termasuk satu gelas susu sapi segar, pemandangan alamnya yang cantik dari gugusan pohon pinus dengan latar bukit hijau di belakangnya, juga disediakan beragam aktifitas yang bisa dilakukan ditempat ini. Dan sepertinya pengelola De ranch dengan sengaja mendesain tempat wisata yang bisa dinikmati mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Aktifitas utama yang ditawarkan De ranch adalah berkuda, yaah ada banyak kegiatan yang berhubungan dengan kuda bisa dilakukan disini. Kita bisa berkeliling ke sekitar area wisata dengan naik kuda berpakaian ala suku Indian, tentunya dengan pendamping yang memegang tali kekang kuda. Dan bagi yang serius ingin belajar menunggang kuda disediakan lapangan khusus, sistemnya kayak private makanya harga yang ditawarkan 100 ribu/30 menit tapi kalau untuk sejam dapat diskon jadi 150 ribu/jam

Naik dokar bersama keluarga juga disediakan oleh De ranch, dengan dokar ini kita bisa juga keluar dari area wisata mengelilingi desa sekitar. Tiket untuk berkuda ala Indian dan naik dokar seharga Rp 20.000.

IMG_0084

Selain berkuda De ranch juga menyediakan beberapa wahana seperti funboat, flying fox dan bola air. Permainan yang didesain khusus buat anak-anak juga ada seperti “ Gold Hunter” dimana anak2 mencari biji-biji ‘emas’ dikolam yang penuh dengan pasir-kerikil. ‘Emas’ yang didapat nantinya ditimbang untuk ditukar dengan hadiah, jenis hadiah tergantung dari berat emas yang didapat. Anak saya yang sulung sangat menikmati permainan ini, dia dapat 8 biji emas yang setelah ditimbang cukup untuk ditukar dengan satu permen tangkai…Alhamdulillah…

IMG_0075

Keahlian berkuda dan memanah memang tidak bisa dipisahkan, orang-orang Indian dan Mongolia pernah membuktikan dalam sejarah dampak dari menggabungkan dua keterampilan ini. Mereka bisa membidik dengan tepat sasarannya dari atas kuda yang sedang berlari, jangan ditanya lagi keakuratan bidikan mereka dalam kondisi diam dengan konsentrasi tinggi.

IMG_0088

Dua dari tiga hal sudah kuajarkan 😀

IMG_0087

Ini jalan kami

Ini jalan kami

Kami Sekolah di SDN 6 Macorawalie ( kadidi dulunya berada dalam lingkup kelurahan macorawalie, sekarang sudah menjadi kelurahan sendiri) karena sekolahnya hanya menerima satu kelas/angkatan setiap tahun akibatnya teman sekelas kami dari awal akan abadi selama enam tahun, formasi bisa berubah kalau ada senior yang tinggal kelas. Diangkatan saya (tahun 86) soal siapa yang juara kelas setiap pembagian rapor sangat mudah ditebak, ahmad menjadi juara kelas sejati, saya dan teman bernama basri kalla gantian antara runner up ataukah second runner up. Masa enam tahun pun berlalu sudah waktunya menentukan pilihan mau ke SMP mana kami…

Di kadidi kebetulan beberapa tahun sebelumnya telah dibuka SMP baru, pilihan mudahnya kami sekolah disana tinggal jalan kaki dari rumah karena jaraknya sangat dekat, 15 menit bisa sampai disekolah. Sisi baiknya lagi guru-guru dan siswa disana banyak yang sudah kami kenal, ada pak patta datu guru pancasila rumahnya persis di sebelah kanan rumahku, ada pak daif wakil kepala sekolahnya tinggal di samping rumahnya ahmad. Tapi bukan jalan itu yang kami ambil, saya bilang “kami” karena keputusan untuk sekolah di SMP mana nantinya menjadi keputusan kami berdua, sedikit atau sama sekali tidak ada campur tangan dari orang tua, bahkan waktu mendaftar ke SMP pilihan kami pun tanpa diantar oleh siapapun, hanya kami berdua, ini jalan kami hehehe

Keinginan untuk selalu ke kota membuat kami mantap memilih untuk sekolah di SMP 1 Rappang, rappang yang merupakan ibukota kecamatan sudah kami anggap kota waktu itu. Pilihan ini membuat kami berdua setiap pagi dan siang naik sepeda ke rappang, sepedanya mustang merah dengan stiker hitam dirangkanya, ya sepeda kami berdua sama persis jenis, merek dan warnanya. Pilihan ini membuat kami terpisah dari teman sekelas abadi di SD karena hanya kami berdua yang ‘berkhianat’. Lupakanlah tentang beberapa tatapan aneh satu-dua orang guru di SMP kadidi. Masa SMP dan SMA terlewati dalam sekejap namun menyimpan ribuan cerita, waktunya menentukan mau kuliah dimana kami…

Yang kami impikan waktu itu lulus UMPTN dan kuliah di Makassar, pernah terlintas keinginan kuliah di jawa bahkan di german tak pernah terpikirkan lagi karena rupiah tiba-tiba melemah 5-7 kali lipat, Makassar yang 4 jam perjalanan naik panther adalah pilihan yang paling realistis. Dalam satu try out di pangkajene (ibukota kabupaten sidrap) yang diadakan oleh mahasiswa fakultas teknik unhas ada presentasi profile masing-masing jurusan. Akhirnya kami sepakat lagi untuk memilih jurusan yang sama teknik elektro, pertimbangannya karena peminatnya paling banyak, cepat selesainya dan alumninya mudah dapat pekerjaan. Saran orang tua untuk memilih fakultas kedokteran dengan berat hati diabaikan. Dan hasil akhirnya kita ketahui, saat ini ahmad bekerja di kementerian ESDM direktorat ketenagalistrikan yang salah tugasnya merumuskan tariff listrik yang nantinya dipakai oleh PLN perusahan tempat saya bekerja. Jadi, kalau soal kenapa tariff listrik naik tanya ke ahmad, kalau kenapa biaya pasang baru atau tambah daya tinggi bolehlah mention atau DM ke saya 

*kalau cerita “masih ingatka sahabat” meminjam dari iwan fals, Cerita “Ini jalan kami” meminjam lyricnya anang di “biarkanlah”

Masih ingatkah kawan…

Masih ingatkah kawan…

Masih ingatkah kawan…
Kita pernah memainkan pelepah pinang berlagak sedang main kereta salju? Karena pelepah pinang yang lebar dan cukup kuat untuk diduduki maka kami memainkannya seperti anak-anak yang sedang seluncuran di salju. Bergantian duduk diatasnya untuk ditarik keliling tempat kami sedang bermain, tentunya bukan salju tapi tanah hitam yang kerasnya minta ampun, anak-anak yang habis ditarik nantinya akan menjadi penarik buat yang berikutnya dan begitu seterusnya. Pas giliranku yang menjadi penarik “kecelakaan” itu terjadi, saya yang tak sadar kalau ahmad di atas pelepah masih berdiri, belum duduk dan berpegangan akhirnya terjatuh ketika saya menarik dengan semangat pelepah pinangnya.
Provokasi teman sepermainan yang lebih tua memainkan tanduknya hingga bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya, kali ini kami berlagak bukan sebagai mike tyson lagi tapi bak pertarungan pesumo yang kurang gizi. Campur tangan minyak tawon (sejenis obat oles untuk luka luar) cukup banyak membantu meringankan derita anak kecil ini, anak kecil lugu yang belum kenal rupa provokator yang ada dimana-mana.

Masih ingatkah kawan…
Kalau bulan ramadhan adalah bulan yang kita tunggu-tunggu, bukan persoalan nanti akan mendapat banyak pahala dari ibadah puasa atau tarawih ataukah masalah aturan orang tua yang lebih longgar untuk bisa keluar malam dengan alasan pergi tarawih, ataukah tentang main petasan buatan sendiri dari busi yang dilubangi kemudian dimasukkan serbuk korek api, bukan itu kawan tapi ini tentang berbuka puasa dimesjid.
Orang-orang dikampung kami dibulan puasa diatur bergiliran setiap hari untuk menyediakan menu berbuka puasa di mesjid dan harus jujur diakui menunya enak-enak dari bolu, bandang-bandang (nagasari) sampe cendol. Bukan rahasia lagi diantara orang-orang tua dikampung kalau anak-anak yang datang ke mesjid berbuka banyak tingkahnya, menurut cara berbukanya setidaknya ada dua aliran. Yang pertama, aliran anak-anak yang duduk manis menikmati jamuan, berhenti mengunyah diurutan terakhir kemudian pura-pura pergi berwudhu lalu pulang kerumah ataukah tetap masuk mesjid tapi keluar lagi sedangkan shalat magrib baru rakaat pertama. golongan lain, anak-anak yang berbuka iya shalat magrib sampai selesai iya juga hanya saja menyimpan sebagian kue di kopiahnya untuk bekal main petasan. Masalahnya tak jarang kopiah terlepas kala sujud maka berhamburanlah jerih payah kami. Saya dan ahmad untungnya menganut dua aliran ini, aliran mana yang kami ambil pada hari H sangat dipengaruhi situasi dan kondisi mesjid saat itu…

Re : Refleksi akhir tahun ahmad amiruddin

Re : Refleksi akhir tahun ahmad amiruddin

Ada dua hal yang berkesan datang di penghujung tahun ini, kali ini saya akan cerita satu dulu. Dari inggris sana lewat refleksi akhir tahun seorang tetangga, sahabat seperjuangan, mentor sekaligus sparring partnerku kenangan masa kecil itu muncul lagi, mudah-mudahan satu tulisan singkat ini bisa melengkapi refleksinya. Ahmad amiruddin disebut tetangga memang sudah tidak bisa diperdebatkan lagi karena rumahnya persis di depan rumahku disebuah desa kecil yang bernama kadidi, 200 km utara Makassar yang tentunya belum bisa ditemukan di google maps. Suatu saat anda lewat ke desa ini silahkan mampir dan kelapa muda atau mangga harum manis siap menyambut anda.

Soal istilah “sahabat seperjuangan” sebenarnya saya masih mencari kata yang pas untuk menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan tapi faktanya kira-kira begini, karena bertetangga hampir semua kegiatan yang dilakukan anak kecil waktu itu kami lakukan bersama. tinggal didesa memberikan kami pilihan permainan dan aktifitas yang sangat banyak mulai dari main layangan, kelereng,kartu2 hingga petasan, mulai dari nangkap ikan, burung, biawak hingga jangkrik. Terimakasih waktu itu didesa kami belum ada playstation

Bukan hanya itu kami sekolah dari TK hingga SMA disekolah yang sama, terus kuliahnya gimana? Ya dikampus yang sama juga, fakultas yang sama jurusan yang sama. Skripsi yang sama juga? Untungnya kali ini kami sepakat berbeda. Satu lagi kami tinggal diasrama kampus yang sama, Blok/RT yang sama tapi pastinya kamar yang berbeda.

Nah terakhir soal mentor dan sparring partner, buat saya pribadi sosok ahmad amiruddin ini lebih dari sekedar teman buat saya, dia jauh lebih matang. Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang well educated membuatnya menjadi sosok yang sangat layak untuk ditiru dan dicontoh, sangat beruntung mempunyai teman sekaligus mentor seperti dia. Kami juga banyak menjadi sparring partner satu sama lain, bukan hanya sparring dalam belajar bahkan dalam artian yang sebenarnya.

Suatu hari disiang hari yang terik, kami berdua tanpa baju sudah saling hadap-hadapan lengkap dengan sarung tinju (entah darimana tetangga kami mendapatkannya) dikelilingi ring 4×4 meter dari tali plastik kuning yang diikat ditiang rumah tetangga, amin daif sebagai pemilik rumah merangkap promotor sekaligus wasit. Entah berapa ronde yang kami lewatkan tapi yang pasti hanya pekikan marah dari orang-orang tua disekitar sana yang sanggup menghentikan mike Tyson kecil ini. Bukankah sudah kukatakan, kami melakukan banyak hal bersama-sama.

Ijen, kawah belerang

Jawa timur sudah lama terkenal dengan kecantikan alamnya yang memikat barangkali gunung bromo dengan lautan pasirnya yang tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan adalah tujuan utama para wisatawan berkunjung ke propinsi ini. Namun obyek wisata yang menarik di jawa timur bukan hanya bromo, kawah ijen yang terletak diperbatasan bondowoso dan banyuwangi adalah salah satunya obyek wisata yang juga tak kalah menariknya.
Kawah ijen bisa di akses dengan transportasi umum dari bondowoso, kurang lebih 2 jam dari terminal bondowoso sedangkan dari arah banyuwangi wisatawan bisa ikut agen perjalanan atau mengikuti cara para backpaker yang kadang menumpang di truk pengangkut belerang. Transportasi umum memang masih menjadi kendala para wisatawan yang akan berkunjung ke kawah ini, Angkutan umum, mobil L-300, dari terminal bus bondowoso hanya tersedia beberapa kali sehari itupun sampai jam 3 sore saja.

Kawah ijen berada di ketinggian 2.368 mdpl, akan tetapi kendaraan umum bisa mengantar kita sampai ke paltuding yang berada di ketinggian sekitar 1800 mdpl.

Salah satu shelter di paltuding...
Salah satu shelter di paltuding…

Di paltuding yang merupakan titik awal pendakian tersedia penginapan, shelter dan warung makanan, dari paltuding ke kawah berjarak 3 KMbisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 3 jam, wisatawan umumnya memulai pendakian sekitar jam 3 dini hari sehingga bisa sampai dikawah pas matahari baru terbit, walaupun kita tidak dapat menikmati sunrise yang indah dari kawah ijen akan tetapi pagi hari biasanya pemandangan disekitar kawah lebih jernih karena kabut belum terlalu banyak.

Ijen mulai menarik bagi wisatawan asing
Ijen mulai menarik bagi wisatawan asing

Untuk sampai ke kawah ijen tidak diperlukan peralatan dan persiapan khusus karena medan pendakian tidak terlalu ekstrem. Satu jam pertama perjalanan yang lumayan menguras tenaga karena trek yang lumayan menanjak setelah itu rute pendakian sudah agak datar, akan tetapi setelah sampai dipuncak dan memandangi birunya air di kawah ijen yang dikelilingi tebing tinggi rasa lelah sudah tidak terasa. Beberapa wisatawan bahkan tidak bisa menahan diri untuk berenang di kawah namun penduduk lokal tidak menyarankannya karena menurut mereka air kawah kadar asamnya cukup tinggi kurang bagus untuk kesehatan.

Penambang belerang in action...
Penambang belerang in action…

Selain sebagai obyek wisata, didasar kawahnya terdapat penambangan belerang yang masih sangat tradisional dari cara penambangannya sampai ke pengangkutan belerangnya. uap belerang dari dasar kawah didinginkan hingga membentuk bongkahan belerang yang berwarna kuning kemudian dipikul ke tempat penimbangan sebelum di bawa ke pabrik pengolahan yang memisahkan batuang dan biji belerangnya.

Bapaknya sangat kuat, bisa mengangkat lebih dari 60 kg
Bapak ini sangat kuat, berat pikulannya lebih dari 60 kg

pabrik pengolahan ini berada tak jauh dari pondok penginapan di paltuding. Para wisatawan pun diizinkan untuk masuk ke lokasi pabrik untuk melihat atau belajar cara mengolah belerang sebelum di ekspor.

kalau anak muda ini, mungkin bisa mengangkat 50 kg, *belum dicoba :D
kalau anak muda ini, mungkin bisa mengangkat yaa sekitar 50 kg lah, *belum dicoba 😀